Praktik mengusapkan liur alias ludah kerap dilakukan sebagian orang ketika kulitnya lecet. Ludah selama ini dianggap dapat jadi pertolongan pertama jika mengalami luka dan tidak ada obat di sekitar kita.
Tapi, benarkah ludah dapat menyembuhkan luka?
Ternyata, berdasarkan penelitian, ludah memang berkhasiat membantu pemulihan luka.
Mencegah infeksi
Ludah manusia mengandung peptide, zat pembentuk protein yang bersifat antimikroba. Karena sifatnya ini, ludah bisa menghambat infeksi pada luka.
Memicu pembekuan darah
Selain peptide, rupanya ludah juga dapat mengaktifkan munculnya trombin, zat untuk pembekuan darah. Ketika kamu terluka, pembekuan darah sangat penting agar kamu tidak kehabisan darah karena pendarahan.
Nah, trombin ini berperan dalam menciptakan benang-benang tipis yang akan menjerat sel darah merah agar pendarahan tidak terus terjadi.
Memulihkan luka lebih cepat
Studi di Cina menunjukkan, luka yang dioleskan ludah lebih cepat pulih.
Dalam riset itu, peneliti menggunakan kelinci dan membandingkan khasiat antara ludah, garam, dan bubuk tradisional Cina yang sering digunakan untuk pemulihan luka.
Hasilnya, ludah lebih cepat merapatkan luka gores pada si kelinci ketimbang bahan lainnya. Kulit baru si kelinci pun muncul hanya dalam waktu 15 hari, tanpa mengalami pembengkakan.
Pelajaran dari luka di mulut
Khasiat ludah dalam menyembuhkan luka sebetulnya dapat kamu rasakan sendiri, yaitu ketika bagian dalam rongga mulut lecet akibat tergigit.
Luka di gusi atau bibir relatif lebih cepat rapat ketimbang luka di area siku, misalnya, walaupun mulut dan siku sama-sama aktif bergerak.
Ini disebabkan karena ludah mengandung peptide antimikroba yang beraneka macam, antara lain defensin, cathelicidin, dan staterin.
Zat pada ludah dipertimbangkan jadi obat luka
Peptide pada ludah yang berperan krusial dalam penyembuhan luka adalah histatin. Dari penelitian soal histatin ini, peneliti bahkan memprediksi bahwa kelak, ludah bisa menjadi sumber penting dalam pengembangan obat luka.
Jadi, apakah kita tidak butuh obat luka lagi?
Bukan begitu. Walaupun protein pada ludah terbukti efektif menyembuhkan luka, tapi ludah juga berpotensi mengandung kuman.
Potensi kuman berbahaya di dalam ludah semakin besar jika kamu jarang sikat gigi dengan pasta gigi. Jika ludah ini dioleskan ke luka, maka luka malah rentan mengalami infeksi.
Maka, para pakar tetap menyarankan kamu mengikuti prosedur yang telah terbukti efektif menyembuhkan luka, yakni dimulai dengan membersihkan luka secara baik dan benar hingga steril.
Cucilah luka hingga bersih menggunakan air bersih mengalir. Hindari gunakan alkohol karena dapat membuat kulit iritasi.
Bila tidak ada air bersih mengalir, kamu dapat menggunakan antiseptik luka berbahan HOCl.
Malah, antiseptik luka berbahan HOCl seperti Eco Sterilyn Antiseptik, misalnya, tidak perih di kulit tanpa mengurangi kemampuannya membasmi 99 persen kuman penyebab infeksi hanya dalam 2 menit.
Kamu dapat membeli Eco Sterilyn Antiseptik yang berbahan HOCL
Referensi:
Plos Pathogens. The power of saliva: Antimicrobial and beyond. Diakses pada 2021
National Library of Medicine. Saliva and wound healing. Diakses pada 2021
National Library of Medicine. Saliva metabolomics opens door to biomarker discovery, disease diagnosis, and treatment. Diakses pada 2021
Journal of Burns and Wound - Hypochlorous Acid as a Potential Wound Care Agent. Diakses pada 2021.