By Admin Sterilyn•Aug 26, 2026•131 views

Sejak Juli 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa penularan Covid-19 dapat terjadi melalui udara (airborne transmission).
Kini, pertemuan di ruang tertutup menjadi salah satu kegiatan berisiko tinggi tertular Covid-19.
Selain sirkulasi udara, rupanya kelembapan udara turut berpengaruh terhadap penyebaran Covid-19 melalui udara di dalam ruang tertutup.
Bagaimana hubungan kelembapan udara dengan penyebaran Covid-19?
Penelitian pada tahun lalu dari Sumit Kumar Mishra, Alfred Wiedensohler, dan Ajit Ahlawat menyimpulkan, penyebaran virus akan “terbantu” di dalam ruangan kering. Bagaimana bisa?
Di dalam ruangan yang kurang lembap, seperti pada ruangan ber-AC, percikan/droplet yang keluar dari mulut atau hidung akan sangat kecil. Akibatnya, percikan/droplet itu bakal melayang lebih lama di udara.
Akhirnya, partikel kecil itu lebih mudah terhirup oleh orang lain di dalam ruangan yang sama atau hinggap di permukaan benda di sekitar. Kita sama-sama tahu, virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 menular lewat percikan/droplet.
Berbeda dengan ruangan kering, di ruangan yang lembap, percikan/droplet yang akan jatuh lebih cepat ke tanah. Sehingga, peluang droplet itu terhirup oleh orang lain seruangan jauh lebih kecil.
“Udara yang kering juga membuat membran di hidung kita kering, sehingga virus lebih mudah meresap,” kata penelitian itu.
Lalu, harus seberapa lembap udara di ruangan yang kita tempati?
Mengetahui fakta tersebut, para peneliti asal India dan Jerman tersebut akhirnya menyarankan kita agar menjaga kelembapan udara di dalam ruangan di kisaran 40-60 persen.
Cara manual adalah dengan membuka jendela selebar mungkin, supaya kelembapan udara di luar ruangan dapat bersirkulasi ke dalam.
Namun, cara ini memiliki kelemahan, sebab belum tentu kelembapan yang diperoleh dari membuka jendela cukup untuk memenuhi kisaran 40-60 persen.
Apakah kita butuh teknologi tertentu?
Cara optimal yang dapat kamu gunakan adalah menggunakan humidifier alias pelembap udara. Gunakan pelembap udara yang bahannya tidak berbahaya, seperti Hypochlorous acid (HOCl).
Bahan HOCl aman untuk dipakai sebagai humidifier karena tidak beracun bagi tubuh. Malah, HOCl sebetulnya adalah senyawa natural yang juga diproduksi oleh tubuh kita melawan kuman lewat sel darah putih.
Bukan hanya melembapkan udara agar partikel yang mengandung virus di udara bisa segera jatuh ke tanah, tapi bahan HOCl juga terbukti mampu membunuh segala jenis mikroba.
Tak heran, HOCl dipakai pada klinik-klinik gigi hingga ruangan bedah yang memang terdapat banyak sekali percikan bertebaran.
Penelitian bertajuk Measurement of Particle Concentrations In A Dental Office (2008) menunjukkan, semprotan HOCl sangat menguntungkan untuk dipakai karena dapat mensterilkan percikan airborne yang melayang dalam waktu yang lama, bahkan di ruangan yang luas sekalipun.
Apakah humidifier berbahan HOCl semacam itu dijual?
Salah satu produk humidifier berbahan HOCl yang bisa kamu dapatkan di pasaran adalah produk Sterilyn. Produk-produk Sterilyn diproduksi menggunakan teknologi canggih dari Jepang serta telah melalui proses uji laboratorium.
Referensi:
-
Environmental Monitoring and Assesment. Diakses pada 2021. Measurement of particle concentrations in a dental office (2008)
-
American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons. Diakses pada 2021. Hypochlorous acid: a review (2020)
-
WHO. Diakses pada 2021. Transmission of SARS-CoV-2, implications for infection prevention precautions (2020)
-
Leibniz Institute for Tropospheric Research (TROPOS). Diakses pada 2021. Coronavirus SARS-CoV-2 spreads more indoors at low humidity (2020)