Sebagian dari kita kini rajin menyemprot benda-benda sekitar dengan hand-sanitizer, alkohol, sampai disinfektan. Wah, tentu saja, aktivitas semprot-semprot ini dimaksudkan untuk mencegah penularan Covid-19.
Penelitian membuktikan, virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 tidak langsung mati begitu keluar dari tubuh seseorang. Tapi, seberapa besar kemungkinan terpapar Covid-19 dari benda mati?
Centers of Disease Control & Prevention mencatat, peluang penularan Covid-19 dari benda-benda sebetulnya rendah, hanya 1 banding 10.000. Namun, kamu tak mau jadi 1 orang sial itu, bukan?
Berapa lama virus corona bertahan di permukaan benda?
Penelitian membuktikan, virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dapat bertahan hingga 3 hari atau 72 jam pada permukaan benda-benda tidak berpori, semisal stainless steel, kaca, atau plastik.
Pada permukaan benda berpori, virus SARS-CoV-2 menghilang hanya dalam hitungan menit hingga jam.
Selebihnya, virus akan mati. Sebab, makhluk tak kasat mata ini butuh sel hidup agar dapat bertahan hidup.
Tapi, perhitungan itu berdasarkan penelitian terkondisi di laboratorium.
Peneliti mengingatkan, kondisi di laboratorium belum tentu sama dengan keadaan di kehidupan nyata, karena jumlah paparan virusnya berbeda dan situasi ruangannya juga berlainan.
Pada benda-benda yang digunakan oleh orang positif Covid-19, jumlah paparan virusnya pasti lebih tinggi. Masalahnya, kita tidak pernah tahu siapa saja di antara kita yang positif Covid-19 tanpa gejala.
Bahan apa yang sebaiknya kita pakai untuk membersihkan benda?
Kebanyakan orang memilih disinfektan berbahan alkohol untuk membersihkan benda-benda di sekitarnya dari kemungkinan adanya virus SARS-CoV-2.
Sebagian lainnya memilih membuat disinfektan sendiri, dengan mencampur air dan bahan pembersih.
Tapi, cara ini ternyata dinilai tidak efektif.
Pertama, alkohol terlalu cepat menguap sebelum benda dilap sempurna. Kedua, membuat disinfektan sendiri butuh waktu yang tidak sebentar. Ketiga, baik alkohol maupun disinfektan buatan sendiri bukan bahan yang aman untuk manusia.
Saat ini, produk disinfektan yang efektif dan efisien terus dikembangkan, salah satunya menggunakan bahan aktif HOCl alias Hypochlorous acid.
Bahan ini sejak lama dikenal sebagai disinfektan yang ampuh dan hemat, sekaligus juga aman dipakai.
HOCl bahkan dipakai untuk membersihkan sayur dan makanan. Tubuh kita sendiri juga memproduksi senyawa ini pada sel darah putih.
Dibandingkan dengan alkohol, HOCl malah lebih cepat membuat sel-sel mikroba kehilangan kemampuan bernapas sehingga segera mati.
Tak heran, para peneliti di Association of Oral and Maxillofacial Surgeons menyepakati bahwa HOCl adalah disinfektan yang paling unggul.
Adakah disinfektan HOCl di Indonesia?
Ada, salah satunya yaitu disinfektan Eco Sterilyn. Disinfektan ini diproduksi dengan teknologi Jepang dan telah terbukti ampuh membunuh 99 persen mikroba dalam waktu singkat berdasarkan serangkaian uji laboratorium.
Referensi:
Centers for Diseases Control & Prevention. Science Brief: SARS-CoV-2 and Surface (Fomite) Transmission for Indoor Community Environments. Diakses pada 2021
Environmental Science & Technology Letters. Longitudinal monitoring of SARS-CoV-2 RNA on high-touch surfaces in a community setting. Diakses pada 2021
Environmental Science & Technology Letters. Community transmission of SARS-CoV-2 by fomites: Risks and risk reduction strategies. Diakses pada 2021
Nature. COVID-19 rarely spreads through surfaces. So why are we still deep cleaning? Diakses pada 2021